Senin, 26 Januari 2009

KTM baru, masalah baru?

Hmm... mungkin ada yang bertanya, apa gara2 KTM (kartu Tanda Mahasiswa) baru kita2 jadi dapat masalah? Apa KTM baru kurang oke? ribet? sebenarnya tidak. tapi proses pembuatannya yang ribet.

Berbeda! itulah yang kami rasakan, mahasiswa eksakta UNLAM sewaktu bayar spp kemaren. tepatnya tanggal 21-28 Januari ini (yang belum bayar, masih ada waktu neh!). apa aja bedanya?
pertama.... tempat. dulu, semester sebelum-sebelumnya kita semua mahasiswa UNLAM bayar spp nya di rektorat yang bertempat di Banjarmasin. kali ini tidak, mahasiswa yang ada di Banjarmasin (sosial, jadi arsitek ikut di Banjarbaru) bayarnya di Banjarmasin, dan mahasiswa di Banjarbaru bayarnya di Banjarbaru juga, di gedung pasca sarjana pertanian. jadi tidak perlu repot2 lagi ke Banjarmasin. good idea!

Kedua... bentuk KTM. dulu cuma kertas berlaminating, tak ubahnya KTP zaman bahuela. sekarang... nice.. plastik! kaya SIM! he3x. dengan bentuk KTM yang sekarang ini, UNLAM sudah "naik zaman" (he3x... kaya maen empire aja pake naik zaman). plus ada barcodenya di bagian bawah, jadi bisa dicek databasenya, ketahuan mahasiswa asli apa gadungan. Salut..!!




Hmm... kelihatanya baik2 aja??? NOW!! this is the "ribet nya" man! pemindahan lokasi pembayaran SPP sepertinya membuat panitia seperti tidak siap, banyaknya mahasiswa yang ingin bayar spp membuat panitia seperti kelabakan sendiri. karena sekarang tidak bisa lagi bayar dengan sistem kolektif. satu orang dengan "titipan duit spp" dari banyak orang. sebab KTM yang baru menuntut foto ditempat persis kaya SIM jadi tidak bisa pake perwakilan. kan aneh namanya A eh fotonya B.

walhasil karena banyak yang pengen rebutan, jadinya betul2 bejubel tidak karu2an. panitia awalnya berinisiatif dengan sistem nomor urut kaya di BANK, tapi entah kenapa di lapangan nomor urut tidak berlaku lagi. jadinya.... kata orang banjar "camuh banar".




selesai berjejal bayar, kita masih antri foto. untungnya yang ini tidak ribet dan kelihatanya terkendali. Next... pengambilan KTM. dulu, selesai kita isi biodata, serahkan foto, foto ditempel, laminating dan selesai. tidak sampai 3 menit. tapi sekarang... weh musti nunggu dipanggil. persis kaya mau nabung di BANK.


sempat saya itung2 waktu bayar spp di Banjarmasin dulu dengan yang sekarang ternyata sama aja. padahal dulu kita musti ke Banjarmasin dulu, belum lagi trafik di jalan. fuiihh... beberapa mahasiswa ada yang bilang enakan di Banjarmasin dulu, antrinya sebentar, KTM selesai cepat... abis tu jalan-jalan ke Pasar hanyar (Waktu itu belum ada Duta Mall). fuihh...

Ah! mungkin ini PR aja buat panitia di Banjarbaru, bagaimana caranya semuanya tertata rapi dan cepat. kalo boleh beri nilai:

Tempat : A
KTM :A
Waktu : D
Antrian : D

kalo di bikin IPK jadinya.... C+... lumayan lah.. tapi alangkah baiknya ditingkatkan (Kaya dosen PA aja.. Hex)
yup! itu aja! semoga nanti2 tidak ada lagi masalah dalam pembuatan KTM.

Minggu, 18 Januari 2009

Banjir!!

Pengaruh global warming emang ueedan! cuaca berubah menjadi tidak bisa diprediksi lagi. kalaupun bisa diprediksi, akibat dari cuacanya yang tidak bisa diprediksi lagi. misalnya neh... kemarau diprediksikan dari bulan April sampai September (Pak Bambang Maggie -dosen mata kuliah BDT Semusim_ sering menyingkat dengan ASEP) dan penghujan pada bulan Oktober sampai Maret (OKMAR kata pa Bambang lagi). dan pada tahun2 ini prediksi ini lumayan tepat, tapi.... siapa sangka kemarau tahun tadi benar-benar kemarau yang -menurut saya- paling panas, jemur pakaian dari pukul 8 pagi, eh jam 10 dah kering sama sekali, termasuk celana kargo saya yang kainnya tebal. weleh2!! biasanya ne, waktu kemarau yang dulu2... jam 2 siang baru keringnnya.

Dan... siapa sangka pula penghujan kali ini menjadi penghujan yang "gila-gilaan". hujan turun lebat tanpa permisi dulu. hari yang tadinya cerah tau2 mendadak jadi badai. efeknya??? se enggak2nya saya dah 5 kali jadi "korban" kehujanan di jalan tanpa persiapan. seandainya saya tau bakal hujan, paling tidak jas hujan sudah ready stand by di bawah jok motor. tapi apa lacur... saya sering ketipu, dikira harinya bakal cerah, jadinya tidak bawa jas hujan.

Hasil lain dari ketidak siapan saya akan musim penghujan adalah banjir. Yup! saya benar2 tidak menyangka kalau jalan pulang saya ke Pelaihari, tepatnya didaerah Bati-bati banjir. Memang sih daerah Bati-bati setiap tahunnya bila sudah musim penghujan bisa dipastikan kebanjiran, cuma biasanya cuma di daerah dalam aja yang banjir, kalaupun sampai ke jalan raya, cuma sekedar menggenangi jalan.


Tapi kali ini agak sedikit berbeda. Kalau dulu2, genangan air di jalan raya Bati-bati tidak terlalu tinggi dan deras, sehingga masih tidak apa2 untuk di terjang langsung pake motor. tapi sekarang... genangannya tidak bisa di anggap remeh lagi. tinggi dan deras. sampai-sampai motor yang lewat harus digotong pake gerobak oleh masyarakat yang mendadak jadi tukang sebrang motor dengan tarif sukarela (makasih ya bang!! saya kasih Goceng dah mau nolongin nyebrangin motor saya). tingginya genangan air masih diperparah dengan jalan yang berlubang, jadi kalo ada yang coba2 nekat pake motor menerobos air, yang ada malah jatoh ke air gara2 ban masuk lubang jalan.


setidak-tidaknya ada 5 spot genangan air di jalan raya, dengan 3 spot terdalam yaitu di daerah depan warung sate, dan 2 cekungan di 2 jembatan besar Bati-bati.foto2 yang ada ini adalah foto di daerah cekungan ke dua (dari arah Pelaihari) yang sudah tidak terlau dalam (tapi jalannya rusak, tadi aja ada mobil mogok gara2 amblas masuk lubang). jadi di cekungan pertamalah yang genangan airnya paling dalam. sampai2 motor untuk nyebrang digotong pake gerobak, sayangnya saya tidak sempat mengabadikan, karena lagi sibuk nyebrangin motor, lagi pula takutnya pas asik2nya motret handphone (kameranya dipake buat motret) saya jatoh nyemplung di air.




Tapi rasanya yang di Bati-bati belum ada apa-apanya dibanding banjir di Jakarta, Samarinda, Amuntai, Martapura, dan bahkan di daerah Pelaihari sendiri. Untuk Kabupaten Tanah Laut sendiri daerah menuju jorong, kintap dan Batulicin menjadi daerah rutin kebanjiran. di Pelaihari nya, warga daerah pintu air sudah biasa dengan namanya banjir. di Samarinda -kata teman saya yang tinggal disana- banjirnya sampai Mall, waktu kita ke mall, eh tau2 keluar kaya berasa di tengah2 pulau, dan yang paling serem... beberapa buaya di penangkaran buaya lepas gara2 airnya dalam. hiii...

Mungkin, dari keadaan akibat musim hujan kali ini membuat kita jadi lebih waspada guna menghadapi musim penghujan yang akan datang. Tapi, masih adakah di benak kita bagaimana caranya mencegah supaya nanti2 tidak banjir lagi? Saya yakin pasti masih ada. Tidak perlulah dulu kita menyalahkan pemerintah atau perusahaan2. tengok dulu diri kita... apakah kita masih suka buang sampah sembarangan? masih suka kah kita menebang pohon2 di hutan lindung demi kepentingan pribadi? bakar2an seenak jidat? dan tindakan2 lain yang akhirnya membuat keseimbangan alam mulai berubah.

Hal yang harus kita ingat. Hujan adalah rahmat Tuhan. artinya daerah yang terkena guyuran hujan adalah daerah yang sedang mendapatkan Rahmat-Nya. dan jangan biarkan Rahmat ini justru menjadi bencana gara2 ulah kita sendiri.